Kecewa adalah ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan. Itu ada teorinya, tapi tunggu ! ternyata ada hal lain, kecewa itu saat kita ingin memperbaiki sebuah hubungan, dan justru membuat kebodohan yang sama , itu faktanya :') Dan pertanyaannya sama seperti 3 tahun lalu, what should I do ?
Mungkin beberapa dari kalian pernah merasakan hal tersebut? mungkin. Saat dimana sedih melanda dan merasa beberapa hari tidak ada sebuah tindakan yang dilakukan untuk menjalin sebuah hubungan yang baik kepada teman, saudara, atau bahkan orang yang disuka. Yang jelas terlihat dari sikap dan juga tingkah laku orang yang ingin kita tuju.
Ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan, mungkin akan banyak sekali ekspresi yang kita keluarkan, tetapi, kecewa merupakan salah satu hal yang tepat.
Kecewa, mungkin itu merupakan kata yang tepat. pertanyaannya, harus diapakan rasa kecewa itu? kecewa ini berbeda, tidak dapat disalurkan kepada orang lain, dan hanya bisa dirasakan diri sendiri. kecewa karena memang merupakan kesalahan diri sendiri yang selalu berulang.
Sama seperti 3 tahun lalu, di saat yang berbeda, dengan orang yang berbeda, melakukan kesalahan yang sama di tempat yang berbeda. Mungkin sistem mapping yang kurang tepat yang membuat semuanya sama. sekarang, yang paling dapat dilakukan adalah mencoba biasa dan menyelesaikan tanggung jawab yang menanti dan berusaha tidak ada apa-apa.
Minggu, 12 April 2015
Sabtu, 11 April 2015
Children And New Media
Bertemu
lagi dengan pembahasan ‘new media’ atau sebuah hal yang sering dikaitkan erat
dengan internet. Untuk kali tema khusus yang akan dibahas adalah, bagaimana
saat ‘new media mulai bersentuhan dengan dunia anak’. Dalam hal ini terdapat
sebuah chapter yang berjudul ‘Children And New Media ‘ oleh Buckinghum. Hal ini
merupakan salah satu chapter yang menjelaskan adanya dunia anak yang mulai
terpengaruhi oleh dunia komputer dan juga media online tersebut dalam sebuah
permainan game yang ada di dalamnya.
Siapa
yang tidak mengetahui permainan yang ada di dalam komputer sekarang ini? game
komputer atau bahkan game online sudah sangat banyak diketahui, dan bahkan
diminati oleh masyarakat. Permainan ini merupakan salah satu model permainan
yang diciptakan oleh kemajuan teknologi, yang akhirnya membuat banyak sekali
orang yang tertarik untuk memainkannya.
Sabtu, 04 April 2015
OPTIMIS VS PESIMISTIK adanya 'NEW MEDIA'
Masih mengenai teknologi,
banyak sekali hal yang ada di sekitar kita yang dapat dijadikan sebagai
penelitian tentang adanya perkembangan teknologi yang ada di sekitar kita.
Salah satu yang banyak menjadi pertanyaan atau keraguan adalah, memgapa
teknologi memiliki hal yang tidak merata dalam hal akses. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya masyarakat pada suatu daerah yang bahkan belum mengetahui
tentang adanya keberadaan ‘new media’ ini.
Acces to Computer and Internet
Akses memang dianggap sebuah
hal yang paling penting dalam sebuah ‘new media’ atau internet. Hal ini karena
memang internet harus mempunyai akses, untuk menjangkau masyarakat. Jika tidak
ada akses, maka tidak aka nada yang mengenal internet sampai sejauh ini. Akses sebenarnya
meliputi banyak hal. Dan tentu saja, mempunyai banyak kendala. Selain memang
peran orang yang menyalurkan internet, ada banyak kendala lain seperti
motivasi, penggunaan, dan juga karakteristik dari masyarakat tersebut, suka
atau tidaknya dengan kedatangan internet. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh
Katz and Aspden, 1997a, 1997b, 1997c.
Tetapi disamping semua hal
tersebut, internet tetap saja memberikan dampak yang signifikan bagi manusia
dan juga masyarakat dengan segala sistem yang ada di dalamnya. Tetapi tentu
saja, dibalik semua perubahan terdapat dua hal yang terkadang berbanding
terbalik. Dan hal inilah yang akhirnya menimbulkan sisi optimis dan juga
pesimistis, di balik semua yang ada. Dan tentunya sebagai orang yang juga
menggunakan media, kita harus mengetahui sisi tersebut yang dapat kita lihat
melalui sisi akses terlebih dahulu.
Pessimistic
Neu et al pada tahun 1999,
pernah membuat penelitian jika memang warga Afrika memiliki akses internet yang
kurang dibandingkan dengan orang Asia, yang menyebabkan hilangnya partisipasi
yang ada di dalam masyarakat mereka. Hal ini juga dapat kita temui di
masyarakat yang ada di Indonesia, dimana memang terdapat banyak suku yang
memang menutup diri dari adanya internet atau bahkan karena tidak pernah
diperkenalkan dengan ‘new media’ tersebut.
Hal ini salah satunya dapat
kita lihat pada suku Baduy di
Banten misalnya, suku yang sangat menjaga adat istiadat cenderung menolak
dengan perkembangan teknologi yang ada, begitu pun internet. Sebagian besar
dari masyarakat mereka tidak peduli dengan perkembangan sistem komunikasi di
luar mereka, hal ini menyebabkan mereka terasing dari kehidupan virtual. Hal ini karena memang
masyarakat tersebut mempunyai kepercayaan akan adat yang sangat menghargai
lingkungan, dan tidak ingin merusak hal tersebut. Dan tentunya contoh yang satu
ini dapat memperlihatkan kurangnya akses internet bisa masuk ke dalam
masyarakat tersebut.
Selain hal tersebut,
terdapat pula sebuah penelitian lain yang memang melihat pestimistik ini di
luar maslaah adat. Seperti adanya penelitian
yang mengungkapkan bahwa adanya keadaan yang merugikan bagi orang yang memiliki
pendidikan rendah, wanita, orang dalam usia renta, dan orang yang berpendapatan
rendah. Kebanyakan dari mereka memiliki kesulitan dalam mengakses dan
mengoperasikan internet. Banyak dari kalangan orang tua yang mengeluh dan
lambat dalam mencerna dan mengoperasikan internet, bahkan ada juga yang sama
sekali tidak mengetahui perkembangan kehidupan di dunia virtual yang semakin marak
ini. Dan
tentunya hal tersebut dapat kita lihat di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Optimistic
Perspective
Disisi lain, menurut McNutt,
1998, internet juga memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengakses
informasi. Internet memang menyediakan banyak sekali kelebihan mulai dari
informasi hingga membantu meningkatkan kehidupan manusia dengan memberikan
akses pendidikan di dalamnya. dan tentu saja hal tersebut merupakan salah satu
yang tidak bida kita hilangkan dari pandangan kita.
Contoh dari akses internet
ini dapat kita temui, bahkan kita alami. Sekarang banyak sekali yang memang
mengakses pemberitaan dan yang lainnya melalui internet. Bahkan sekarang banyak
sekali dari para mahasiswa yang mencari jurnal dan ilmu pengetahuan dari ‘new
media’ yang satu ini.
Selain itu, dengan adanya
internet, banyak sekali masyarakat yang memang dapat mengakses internet untuk
mencari teman yang mempunyai perbedaan dan lainnya. Maka dari itu, akses yang
diberikan oleh internet sangatlah penting.
Dari adanya beberapa hal optimistic
dan juga pesimistik yang ada di dalam akses, terdapat beberapa hal yang
akhirnya menjadi pemikiran dalam materi yang satu ini. Pengenalan orang tua
yang memang sangat sulit untuk dimasuki internet, merupakan salah satu penemuan
yang menarik. Dan tentu saja, terdapat beberapa orang yang memang tengah
meneliti tentang hal ini. Dan makin menarik karena terdapat beberapa pendapat
yang ternyata sama, bahwa memang orang tua kesulitan untuk mengaksesnya karena
teknologi ini sudah berubah di jaman mereka yang berbeda. Yang membuat mereka
belum terbiasa dengan adanya internet. Hal ini bisa kita bandingkan kelihaian
internet kita dengan orang tua ataupun kakek nenek kita.
Tetapi tentu saja, dari
semua hal yang disampaikan tentang optimis dan pesimis di atas, kita sebagai
orang yang juga menggunakan internet dan teknologi, harus menjadi tahu, apa
yang harus kita lakukan dengan new media dan apa yang harusnya tidak kita
lakukan. Karena setiap hal pastinya memiliki hal yang buruk dan hal yang baik. Dan
apapun akses yang menghambatnya, jika kita bisa menghalau untuk sesuatu yang
lebih maju, tentunya kita bisa coba dari keluarga terdekat yang mungkin belum
mengenal internet, agar mereka dapat menggunakan ‘new media’ ini dengan cara
yang lebih bijak. Terimakasih telah membaca :)
Sabtu, 28 Maret 2015
Mengenal lebih dekat : Tahapan Perkembangan 'MEDIA' dan 'KOMUNITAS'
Banyak sekali perkembangan yang ada di dalam dunia
teknologi. Yang tentu saja hal seperti patut untuk kita perhatikan. Teknologi merupakan
salah satu hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini tentu saja,
membuat kita harus terus mengikuti perkembangan yang ada. Ada beberapa tahap
yang membuat teknologi menjadi sekarang ini, bahkan hingga dikenal dengan
sebutan ‘new media’ yang memang telah diketahui oleh orang banyak.
Dalam hal ini, sebagai seorang yang menggunakan
teknologi, dan bahkan telah menjadi pengguna aktif, tidak ada salahnya, jika
kita harus mengetahui tahapan serta perkembangan yang ada di dalam teknologi. Yang dalam hal
ini, tahapan tersebut mempunyai kemungkinan besar untuk membuat kita mengetahui
bahwa ada sejarah dan juga dampak yang dibawa, pada sebuah teknologi, yang
dalam hal ini menyangkut dengan media, yang tentunya sudah tidak asing di
telinga kita.
Beberapa tahapan dapat kita ketahui dari beberapa gelombang
yang ada di bawah ini :
1. Gelombang
Pertama dari studi komunitas dan media
Pada
gelombang ini, terdapat seseorang yang memang tertarik kepada peran dari
komunitas pers, yang pada saat itu, tengah ada di dalam pembentukan identitas
antara kelompok imigran. Seseorang tersebut merupakan Park (1922) yang memang
memberikan pendapat bahwa pembaca koran, lebih merupakan karakteristik yang ada
di penduduk kota dibandingkan dengan penduduk yang ada di desa. Dan ternyata,
terdapat sebuah kesimpulan bahwa masyarakat yang ada di dalam pedesaan lebih
suka untuk membaca berita lokal mengenai daerah atau wilayah yang ditempatinya,
dibandingkan dengan daerah lain. Sebaliknya, masyarakat kota dinilai lebih suka
membaca berita yang memang berasal dari luar kota.
Lalu,
disaat yang hampir bersamaan pada gelombang ini, Merton (1949) juga mempunyai
pendapat yang lain. Dia memberikan perbedaan pada masyarakat, yang menurut
pengamatannya, masyarakat dapat dibagi menjadi dua kelompok yang berbeda, yaitu
localites dan juga cosmopolitans. Localites diartikan sebagai masyarakat yang
memang terlibat dalam aktifitas sosial yang berbasis lokal dan juga menggunakan
koran lokal untuk mencari berita lokal juga, yang memang menarik perhatiannya. Sedangkan,
di sisi lain, cosmopolitan merupakan sebuah masyarakat yang memiliki pandangan
luas, dan juga aktivitas sosial yang beragam, ternyata banyak yang mencari
berita dari luar daerah. Dalam hal ini dapat dilihat, bahwa penggunaan media
dan juga partisipasi komunitas yang ada di dalamnya, memang merupakan bentuk
refleksi dari masing-masing individu.
Disisi lain, ternyata hal ini juga berbeda menurut Jangwitz (1952),
menurutnya koran lokal memang berkontribusi dalam masyarakat yang ada pada
daerah lokal tersebut. Dia menemukan bahwa integrasi komunitas dan juga
keterlibatan komunitas berhubungan dengan perhatian yang lebih besar dari surat
kabar lokal.
Pada gelombang ini, kita sudah dapat menyaksikan, baik media lokal maupun
bukan, memang telah mempunyai pengaruh yang besar, yang memang telah
mempengaruhi masyarakat, dengan di dalamnya terdapat berbagai macam
pengelompokan dan juga pengkategorian identitas di dalam suatu komunitas,
secara tidak sadar.
2.
Gelombang Kedua : Media Komunitas Elektronik
Seperti yang kita ketahui pada gelombang pertama, media yang pertama kali
ada adalah media cetak, yang memang memiliki sejarah dampak yang memang sangat
tinggi, apalagi jika kita kaitkan dengan awal mula atau sejarah yang ada, anda
akan menemukan banyak dampak yang sangat besar yang diakibatkan oleh sebuah
media cetak.
Tetapi, pada gelombang kedua, terdapat perubahan dalam hal teknologi yang
tidak kalah menarik. Di dalam tahapan ini, telah berkembangan suatu teknologi,
yaitu sebuah video portable, dan juga distribusi sistme televisi kabel yang ada
pada akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970. Tentunya hal ini membuat perubahan
yang sangat signifikan. Dalam hal ini, mulai bermunculan kelompok-kelompok
kontra-budaya dan juga politik yang mapan memiliki surat kabar untuk dirimereka
sendiri. Dalam hal ini, sering dikenal sebagai underground atau juga pers alternative,
yang pernah disebutkan oleh Downing, Girard, dan Jallow.
Media yang baru ini memang mencoba untuk menghadirkan sebuah ‘media
komunitas’ yang mengacu pada berbagai macam bentuk mediasi yang dapat
dihasilkan dari komunikasi. Beberapa contohnya banyak kita lihat seperti
sekarang ini, seperti media elektronik radio, dan juga televisi, serta media
cetak seperti koran dan juga majalah. Dalam hal ini, jaringan elektronik
kemudian berinisiatif untuk merangkul segala yang ada di dalam media saat itu,
seperti media yang mempunyai karakteristik dari media cetak tradisional maupun
media elektronik.
Dengan keberhasilannya dalam merangkul semua media tersebut, akhirnya
membuat media elektronik mempunyai sebuah komunitas media yang menciptakan
sebuah komunitas media yang lain. Komunitas media yang telah ada, memanfaatkan
media elektronik yang memang berskala kecil, untuk tujuan politik dan budaya. Dan
masalah inilah yang akhirnya menyebabkan, pembentukan struktur organisasi yang
profesional dalam sebuah komunitas media tersebut. Tetapi, organisasi yang
profesional ini memang bertentangan dengan tujuan yang ada pada masyarakat
asli. Karena memang antar media yang telah ada mempunyai banyak ketertarikan,
akhirnya gelombang dan aktivitas ini menjadi bercampur. Menjadi sebuah
komunitas dan juga hasil media yang bercampur juga.
3.
Gelombang Ketiga : Era Internet
Gelombang inilah yang akhirnya sekarang ini, banyak kita temui di sekitar
kita, dan bahkan menjadi salah satu hal yang banyak kita lakukan. Dalam sebuah
jurnal of communication dan journal of computer mediated communication pada
tahun 1996, terdapat tema utama yang memang disiapkan untuk membahas gelombang
yang satu ini. Hal ini juga sangat terlihat dengan jelas bahwa internet memang
mempunyai arti yang sangat penting, terbukti dari adanya pembentukan Asosiasi
Peneliti dan Penyelenggaraan Konferensi International pertama yang mengulas hal
ini pada tahun 2000.
Dalam hal
ini, banyak sekali pusat penelitian baru yang dibentuk dengan beberapa
inisiatif yang memang menjadikan komunitas virtual sebagai objek virtual. Dalam
hal ini, komunitas virtual merupakan sebuah komunitas baru lagi, yang memang
hadir karena adanya ‘new media’ ini, atau yang lebih dikenal dengan nama
internet. Dengan adanya media yang baru ini, dan memang mempunyai dampak yang
besar, akhirnya banyak sekali jurnal akademik yang diluncurkan, untuk membahas
mengenai fenomena ini. Buku-buku mengenai internet dan aspek masyarakat juga
meledak setelah Benedikt menerbitkan sebuah buku Cyberspace: First Step, yang
memang banyak sekali membuka wawasan tentang dampak dari gelombang yang satu
ini.
Di dalam ketiga gelombang
tadi, tentunya kita bisa melihat dampak yang ada di dalamnya, untuk lebih
mengetahui apa yang harus kita lakukan, dengan media yang sekarang ini kita
gunakan. Dan untuk membuat kita mengetahui bahwa gelombang di atas, juga
merubah setiap karakter yang ada di masyarakat, yang membentuk sebuah komunitas
yang baru.
*sumber: "Creating Community with Media : History, Theories
and Scientific Investigations”
oleh Nicholas W. Jankowski
Selasa, 16 September 2014
Sebuah Lingkaran
Lingkaran kali ini adalah sesuatu yang tidak dapat kusebutkan asal-usulnya. Karena lingkaran ini terlalu berbahaya jika kucari tahu seluk beluknya, ini akan berakibat fatal untuk otakku yang akan menguak kisah masa lalu yang indah. Jadi sengaja aku tak ingin mengingatnya untuk membuat lingkaran itu tetap putih seperti masa lalu. Tapi tentunya aku tak bisa menghalau apa yang akan terjadi ke depannya bukan? Yang kurasakan lingkaran ini makin hitam kelam karena (katanya) penuh dengan kebohongan, drama, dan seubrek hal lain yang disebut sebuah lingkaran yang erat.
Akhirnya aku berani menyimpulkan bahwa semua yang kulakukan seperti salah di sebuah lingkaran itu, aku harus berhati-hati menyampaikan semua hal yang aku tahu, bahkan cerita tentang perasaanku sendiri. Ini menyebalkan untukku yang memang cerewet, cildish serta egois, yang menurut beberapa lingkaran itu dibuat-dibuat. Oh GOD !! Ngapain juga aku buat-buat sikap yang emang aku udah punya dari dulu. Oke, mungkin aku terlalu perasa tentang ini, dan memang mending distop aja bukan?
Aku sekarang sudah mulai menyetop "apa yang kata lingkaran" aneh dan mungkin menyebalkan. Oke, aku merasa aku telah kalah dengan sebuah lingkaran yang aku buat sendiri ini. Tapi aku masih yakin jika aku melakukan ini semuanya akan baik-baik saja. aku akan bisa melakukan aktivitas tanpa harus bergantung atau mungkin kita jangan pakai kata bergantung. Lebih tepatnya untuk menghindari segala aktifitas yang berhubungan dengan semua lingkaran yang aku punya.
Bahkan ketika aku menuliskan sebuah catatan hati di blog pun kayaknya tidak akan merubah apapun dengan lingkaranku. Tapi setidaknya aku tidak harus mengatakannya secara langsung kepada siapapun!! OKE ? Aku bisa diam hidup dengan tenang tanpa harus mempunyai beban lebih yang aku torehkan ke sebuah lingkaran.
Tetap kuat dengan semua terpaan yang terjadi memang sulit. Ini lebay sih memang, tapi seenggaknya dengan hal tersebut kita bisa berdoa untuk cepat menyelesaikan tugas dalam hidup untuk berganti pada lingkaran yang berbeda. Semoga harimu menyenangkan !!!
note . ini catatan yang sangat gajelas, terimakasih untuk anda yang telah membaca catatan gajelas ini :)
Senin, 23 Juni 2014
KITA SATU (bukan?)
Tulisan ini sih aku buat karena ngeliat sedikit keanehan aja di video yang engga sengaja aku tonton. Aku emang udah tahu kasus ini sejak lama, cuman aku belum lihat nyatanya. dan ketika aku liat video dokumentasi itu, aku jadi bertanya-tanya. Kita itu satu bukan? bukannya kita satu (bukan?). Kita satu kesatuan yang tergabung dalam NKRI bukan? Tetapi yang terlihat di vedio ini sungguh miris.
Sungguh sedih ketika melihat warga Rembang sekuat tenaga mempertahankan wilayah mereka agar tidak terjamah pabrik semen yang akan didirikan di wilayah tambang tersebut. Wajar bukan? mempertahankan suatu tempat untuk sebuah kebaikan? Tetapi sepertinya tidak untuk orang-orang yang memperoleh berbagai keuntungan dari pendirian pabrik tersebut.
Walaupun itu bukan tempat tinggal kita, tapi kita memang bertugas untuk menjaga tempat saudara kita itu kan? Mana kesatuan yang sering digemborkan itu? Jika akhirnya banyak perpecahan di dalamnya, dan perpecahan itu untuk keuntungan sendiri.
Bahkan untuk aparat negara yang ada di dalamnya, bukannya aparat negara tidak harus memihak satu sama lain? Dan bertugas mengamankan dengan cara yang adil? Tetapi mengapa sekarang kenyataan tidak begitu? Ini sungguh disayangkan. Dengan ngeliat video itu juga aku jadi bertanya, kita emang butuh hidup dengan mencari nafkah dan lainnya, tapi apa tidak bisa kita juga memikirkan orang lain? Yang mungkin akan sengsara karena kita. Sebenarnya kita satu dalam hal apasih? dalam hal kawasankah? Atau dalam hal apa? Satu seperti apa yang selalu kita gembor-gemborkan?
Bukan sok pintar, tapi sebagai orang awam aku turut sedih ngeliat ini lho, apa cuma sebatas ini kesatuan WARGA NEGARA INDONESIA? mana kita yang dulu? yang menggemborkan kesatuan sampai berdarah? Kita memang engga bisa ngulang waktu, tapi bisa kan kita mempelajari waktu tersebut? KITA SATU, (bukan?)
NB. - ini cuma opini orang awam yang masih harus belajar
-TERIMAKASIH UNTUK KALIAN YANG MASIH PEDULI ! TERUS LANJUTKAN, DAN TETAP INGAT UCAPAN YANG TELAH KITA LONTARKAN! SALAM SOLIDARITAS!
video terkait :
https://www.youtube.com/watch?v=5hwwcT59Aqk
Minggu, 15 Juni 2014
UNTUKMU BAPAK :)
Purwokerto, 15 Juni 2014
Assalamu'alaikum
Bapak mpun dahar? Bapak sering sekali nelpon buat sekedar nyuruh Yayas makan, tetapi terkadang Bapak sendiri belum makan kan? Jangan sering gitu pak, Yayas disini bakal makan kok, kalau Yayas laper, jadi bapak juga makan ya. Yayas jadi inget gimana dulu kita sering makan bakso bareng, bapak minta buatin Yayas bakso, dan kadang Yayas menolak. Tapi yayas pengen kaya gitu lagi pak, kangen. Kangen disaat bapak marah-marah biar yayas bikinin bapak bakso. Maaf ya pak, Yayas belum bisa kaya gitu lagi.
Bapak inget? dulu waktu Yayas kecil Yayas sering disebut anak bapak bukan anak ibu, karena yayas sering sekali dengan bapak, dulu kita selalu ke pantai setiap pigu pagi, karena disana udaranya enak. Bapak sering batuk kalo malem, jadi kalo ke pantai bisa sekalian hirup nafas segar. Setelah Yayas SMP, kita udah jarang bareng, Yayas mulai sibuk sama urusan Yayas sendiri. Dateng ke bapak kalo butuh doang, maaf ya pak, keegoisan Yayas sangat tinggi waktu SMP. Terkadang, kalo bapak nelpon kangen Yayas, Yayas seakan cepet pengen nutup karena bapak sering banget nelpon Yayas. Maaf ya pak.
Pak, inget engga, bapak paling suka dipijet punggungnya, di idek-idek pake kaki, dulu waktu kecil Yayas seneng banget mijetin bapak, tanpa disuruh langsung kadang menghampiri bapak. Maaf ya pak, sekarang Yayas sudah jarang lagi melakukan itu. Terkadang sampai bapak marah-marahpun Yayas malah pergi keluar, maaf banget bapak, Yayas nyuwun pangapunten ingkang katah.
Bapak, sekarang pun bapak masih sama, bapak sering nelpon yang terkadang engga Yayas angkat hanya karena alasan malas, Yayas sekarang ngerasa emang pilih kasih banget sama bapak, maaf ya pak. Yayas juga salah pak, Yayas engga pernah berfikir buat ngebahagiain bapak dulu waktu SMP sama SMA, kalo ada apa-apa pasti ibu, Yayas juga jarang ngajak bicara bapak. Bapak kadang kesepian bukan? Bapak tapi engga pernah bilang, karena engga ingin nyakiti hati kita. Maafkan anakmu ini, bapak.
Bapak, tapi sekarang Yayas udah bisa mikir apa yang kata orang dewasa, Yayas engga pengin bapak kecewa lagi sekarang. Disini bapak, Yayas pengen belajar semaksimal mungkin buat ibu, dan juga buat bapak. Yayas pengen bapakpun ikut bangga liat Yayas besar nanti. Yayas pengen bapak bisa ngerasain apa yang Yayas rasain, Yayas pengen Bapak juga selalu ada temen kalo Yayas pulang nanti. Sekali lagi Yayas minta maaf ya pak, Maafkan anakmu yang penuh kesalahan ini.
Bapak, sebenarnya banyak sekali yang perlu Yayas ceritakan, tapi maaf bapak, sepucuk surat ini tidak dapat mewakili semuanya, tunggu Yayas pulang ya pak, jangan suka pulang malam terus kehujanan, kurangi ngerokok pak, nanti batuknya kambuh terus, jangan makan makanan yang keras juga, karena Yayas tahu kalau giginya dipaksa makan keras pasti sakit kan? Sekian dulu ya bapak. Yayas sayang bapak.
Wassalamu'alaikum
Dari Anakmu, Yayas
Langganan:
Postingan (Atom)
